fbpx

Pilih Bahasa :  Indonesia bahasa indonesia Englishbahasa inggris

Jul 20

6 Camilan di Bandung yang Wajib Dicoba

1. Fish N Chips

fishnchips

Makanan yang satu ini tersedia di café unik di Bandung yaitu Unicorn Wingz Café yang berlokasi di Jalan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat. Café dengan konsep unicorn yang lucu ini berdekatan dengan destinasi wisata alam hutan pinus Dago Dreampark. Selain bisa makan sambil menikmati pemandangan indah, kamu juga bisa berfoto-foto karena tempatnya yang instagramable dan kekinian. Jangan lupa juga bila dating kesini pesan camilan Fish N Chips yang dapat disantap dine-in maupun take away.

2. Wajit Cililin

wajitcililin

Wajit sudah sejak lama menjadi kudapan khas masyarakat Desa Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Penganan yang terbuat dari beras ketan dengan campuran gula aren dan parutan kelapa ini selalu jadi buruan para pendatang saat berkunjung ke daerah tersebut.

Perpaduan rasanya yang manis, legit, serta gurih, membuat wajit cacilin selalu jadi menu andalan masyarakat sebagai pelengkap saat tengah bersantai di pagi atau sore hari. Para pembuat wajit di Cililin sampai sekarang masih mempertahankan cara pembuatan secara tradisional dengan tidak menggunakan mesin modern. Mula-mula wajit dibuat dengan mencampurkan beras ketan yang sudah masak dengan larutan gula aren dan parutan kelapa. Bahan tersebut kemudian diaduk hingga adonan wajit mengental. Wajit Cililin begitu nikmat jika disandingkan dengan secangkir teh maupun kopi pahit. Cita rasa manisnya akan menciptakan sensasi yang lezat saat dimakan.

Dahulu wajit hanya bisa dimakan oleh kalangan menak maupun bangsawan Sunda di masa lalu. Selain itu, terdapat keunikan lain dari penganan wajit. Dalam sejarahnya turut disebutkan jika makanan tersebut sempat dilarang dimakan oleh kalangan masyarakat luas karena dianggap sebagai penganan yang istimewa. Hal itu didasarkan pada keadaan di masa kolonial, di mana beras ketan merupakan salah satu komoditas yang dianggap mahal dan merupakan bahan untuk kebutuhan impor bersama beberapa jenis rempah.

3. Peyeum Bandung

peyeum

Peuyeum Bandung merupakan salah satu kuliner khas yang ada di Kota dan Kabupaten Bandung. Nama kuliner ini terdiri dari dua kata, yaitu “Peuyeum” atau dalam bahasa Indonesia artinya tapai singkong. “Bandung” merupakan nama kota tempat produksi peuyeum tersebut, yaitu Kabupaten Bandung.

Asal mula keberadaan kuliner tradisional peuyeum di Bandung yaitu dari Kecamatan Cimenyan (Kabupaten Bandung). Singkong sebagai dasar pembuatan peuyeum memang sejak zaman penjajahan sudah dikenal oleh masyarakat Bandung sebagai pengganti nasi yang kala itu sangat sulit diperoleh. Produksi singkong yang berlimpah terkadang membuat sebagian yang belum dikonsumsi atau diolah menjadi busuk. Antisipasi agar jangan sampai busuk salah satunya adalah melalui upaya pengolahan dan pengawetan singkong. Di Cimenyan, pengolahan singkong dilakukan melalui proses fermentasi menggunakan bahan ragi. Dari hasil olahan tersebut kemudian menghasilkan kuliner yang dikenal dengan nama peuyeum. Rupanya proses pengawetan tersebut telah berlangsung cukup lama, yaitu sudah sejak tahun 1800-an. Kualitas singkong yang diproses sedemikian rupa membuat peuyeum Cimenyan dikenal dengan kelezatannya tidak saja oleh warga sekitar tetapi juga sudah sudah meluas hingga ke Kota Bandung dan beberapa kota di Provinsi Jawa Barat (metrum.co.id, 2019).

Proses pembuatan Peuyeum cukup mudah. Menurut penuturan Rokhmat, bahan yang dibutuhkan hanyalah singkong, air, dan ragi. Proses pertama adalah mengupas kulit singkong, kemudian dicuci bersih. Biasanya, singkong untuk membuat peuyeum adalah singkong utuh yang hanya dipotong pada bagian ujung atas dan bawah saja. Setelah bersih semua, singkong kemudian direndam sebentar lalu ditaruh dalam 3 dandang berisi air untuk direbus sebanyak dua kali hingga setengah matang. Rebusan pertama selama 1,5 jam, sedang yang kedua selama 1 jam. Selesai direbus, singkong ditiriskan kemudian ditaburi ragi (kecamatan-cimenyan.wordpress.com, 2010). Singkong yang sudah diberi ragi disusun dalam keranjang bambu yang diberi alas daun pisang. Diamkan selama 2-3 hari hingga proses fermentasi selesai dan menghasilkan Peuyeum yang manis serta empuk (namun tidak lembek).

Fungsi peuyeum selain sebagai salah satu cemilan juga diyakini dapat menghangatkan tubuh. Ragi sebagai bahan fermentasi memang menjadi faktor utama yang menimbulkan efek hangat pada tubuh setelah menyantap peuyeum.

Hingga saat ini, Peuyeum Bandung biasa dikirim ke Kota/Kab. Bandung, Garut, Cianjur untuk diperjualbelikan sebagian besar sebagai oleh-oleh dan sebagai bahan utama untuk membuat kuliner colenak (dicocol enak).

4. Sumpia

sumpia

Sumpia merupakan makanan yang banyak ditemui saat akan datangnya hari lebaran. Sumpia banyak pariasi nya mulai dari isian abon, kacang, coklat dan juga ebi. Bahan utama yang diperlukan dalam makanan ini iyalah kulit lumpia. Makanan khas Bandung ini banyak sekali peminatnya, bahkan dengan harga yang cukup berpriasi banyak ditemukan di pasar-pasar mau pun toko makanan. Bahan yang diperlukan diantaranya kulit lumpia, coklat, air minum secukupnya. Cara membuatnya pun sangat mudah. Pertama potong kulit lupia menjadi 4, ambil sepotong kulit lumpia isi dengan chocochips, gulung lumpia, gunakan air sebagai perekat nya, kemudian goreng dengan minyak panas dengan api yang sedang, angkat dan tiriskan.

5. Kecimpring

kicimpring

Kecimpring adalah salah satu makanan ringan tradisional khas Bandung, Jawa Barat. Kerupuk berbahan singkong ini sudah menjadi camilan orang Sunda sejak zaman dulu. Meski saat ini sudah banyak makanan ringan dan kerupuk sebagai camilan. Apalagi Bandung dikenal sebagai sentra kuliner yang begitu inovatif dan kreatif menciptakan kuliner baru termasuk aneka cemilan seperti kerupuk. Namun nyatanya kecimpring masih diminati oleh masyarakat. Baik masyarakat Sunda maupun di luar orang Sunda.

Kecimpring adalah makanan tradisional khas Bandung Jawa Barat. Bahan dasarnya adalah ketela pohon atau singkong yang dihaluskan bersama bumbu-bumbu pelengkap, dicetak, lalu dijemur hingga kering. Setelah kering, kecimpring pun kemudian digoreng menjadi kerupuk. Kecimpring disukai hampir semua kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa. Rasanya gurih dengan tekstur yang renyah membuat banyak orang ketagihan hingga menjadikan kecipring menjadi pilihan oleh-oleh.

Kata kecimpring berasal dari bahasa Sunda yaitu cempring atau bisa disebut tipis, ini karena kecimpring bulat dan pipih tipis. Tekstur yang tipis inilah yang membuat kecimpring memiliki tekstur yang renyah dan mudah digigit. Banyak orang-orang, terutama masyarakat Jawa Barat menyebutkan kecimpring dengan sebutan lainnya karena di setiap daerah di Jawa Barat berbeda-beda penyebutannya. Contohnya di Sukabumi, disebutnya Enye-enye. Dikenal sebagai makanan ringan khas Bandung, kecimpring banyak dijajakan di toko oleh-oleh. Namun, sentra penjual kecimpring berada di kawasan Kabupaten Bandung Barat.

Masih dari jurnal trijurnal.lemlit.trisakti.ac.id pada sejarahnya yang melakukan pengolahan kecimpring adalah warga asli dari Desa Pagerwangi Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat. Bisa dibilang warga Desa Pagerwangi-lah yang pertama kali membuat pengolahan kecimpring, pada zaman dulu mereka melihat disekitar daerah mereka banyak sekali bahan baku untuk dijadikan makanan. Lalu pada waktu itu, kecimpring tidak banyak dijual ke masyarakat karena tidak terlalu untuk dijual.

Enem, salah satu perajin kecimpring di Desa Pagerwangi menuturkan, dahulu kecimpring tidak diproduksi massal seperti saat ini, dan tidak dijual belikan. Namun hanya sebagai camilan atau teman makan di Kampung Babakan, Desa Pagerwangi. Menurutnya, kecimpring sudah ada dari zaman dahulu kala, ia tak mengetahui pasti sejarah akan kecimpring tersebut. Enem hanya mengikuti resep turunan dari orang tuanya.

Seperti Kecimpring Hidayah, salah satu merek kecimpring yang sudah menjual kecimpring sejak 2011 lalu. Pemiliknya, Agus Hermawan menuturkan jika pasar kecimpring masih ramai hingga kini. Untuk satu bungkus kecimpring matang seberat 130 gram, Agus membandrolnya Rp 15.000 sementara untuk kecimpring mentah (harus digoreng dulu) harganya 250 ribu isi 10 bungkus ukuran 450 gram. Selain kecimpring, Jawa Barat masih memiliki makanan ringan atau camilan yang tak kalah populer dari Kecimpring

6. Sale Pisang

sale pisang

Sale pisang termasuk camilan enak. Olahan pisang bercitarasa manis ini punya pilihan basah maupun kering. Sale merupakan salah satu kreasi klasik dari pisang yang punya rasa enak. Beberapa daerah di Indonesia mempunyai produk sale pisang dengan bentuk pipih panjang dan pipih lebar. Ada sale pisang basah yang punya rasa manis menggigit. Selain sale basah, ada pula sale pisang yang digoreng kering dengan balutan tepung. Rasanya manis dan bertekstur renyah. Tidak semua jenis pisang dapat diolah menjadi sale. Pisang raja nangka, tanduk, dan kapas tergolong jenis pisang yang bisa diolah menjadi sale. Olahan sale pisang memanfaatkan proses pengeringan dan pengasapan untuk mengurangi kadar air buah. Sehingga membuat pisang lebih tahan lama.

Terdapat tiga pengolahan sale pisang. Ada cara tradisional menggunakan asap kayu, pengasapan dengan asap belerang dan cara basah dengan menggunakan natrium bisulfit. Dalam pembuatan sale kering, pisang diiris tipis terlebih dahulu. Baru kemudian dijemur di bawah sinar matahari atau di atas tungku sampai kering. Selanjutnya pisang digoreng dengan balutan adonan tepung. Biasanya tersedia sale pisang kering dengan pilihan rasa original dan keju. Kualitas pisang sale bisa terlihat dari warna, rasa, bau, kekenyalan dan daya simpannya. Pisang sale yang enak punya tekstur renyah serta sensasi sedikit asam. Ini berasal dari buah pisang yang masak. 

Research:

  • -          Merdeka.com
  • -          Website resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
  • -          Mediapakuan.com
  • -          Detik.com
  • -          Detikfood.com

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.